jump to navigation

Tradisi Weh-wehan 9 Maret 2009

Posted by masjaliteng in keluarga.
Tags: , , , , ,
trackback

jajananSetiap kali datang Maulid nabi Muhammad SAW, selalu ingat masa kecil dulu. Saat itu sore hari setelah Asar pada malam Maulud pastilah sudah tersedia berbagai macam jajanan maupun makanan di rumah. Biasanya ada sompil  (mirip lontong ukuran segitiga kecil tapi dibungkus daun bambu), lotek, bubur, mie bihun dan teman-temannya. Makanan itu khusus disediakan oleh Ibuku untuk acara “weh-wehan”. Tentu saja persiapan seperti itu tidak hanya dilakukan di rumahku saja. Rumah tetangga yang mempunyai anak-anak biasanya menyediakan makanan dan jajanan seperti itu. Dan mungkin hampir seluruh keluarga di Kaliwungu pada saat itu juga mempersiapkan “ketuwinan” (opo maneh…???).

Memang tradisi “weh-wehan” dan “ketuwinan” saat menyambut Maulud Nabi  setahuku di Kabupaten Kendal hanya ada di Kaliwungu dan sekitarnya. Ini terbukti ketika aku pindah domisili dan tinggal di kecamatan lain, saat menyambut datangnya hari kelahiran rasul Muhammad SAW penduduknya anteng-anteng saja. Kalau membaca riwayat nabi mulai tanggal 1 Rabiul Awal rata-rata sama tapi tradisi weh-wehan dan ketuwinan itu yang tidak ada.

Weh-wehan mungkin dari bahasa Jawa yang artinya saling berbagi. Kalau ketuwinan itu yang aku belum tahu. Saling berbagi disini diwujudkan dengan saling bertukar makanan dan jajanan. Setiap anak akan membawa makanan dari rumah yang akan diberikan kepada tetangganya. Kemudian tetangga siempunya rumah akan memberikan ganti  makanan lain yang ada untuk dibawa pulang anak tersebut. Demikian seterusnya sampai satu kampung  terbagi semua. Tentu saja bagi anak-anak saling bertukar makanan dan jajanan seperti itu memberikan keasyikan tersendiri. Bagi rumah yang mempunyai makanan atau jajanan favorit pastilah yang antri banyak dan barternya makanan yang sama, soalnya yang weh-wehan seringkali anak yang itu-itu saja.

Selain tradisi weh-wehan, yang kuingat adalah “teng-tengan”. “Teng-tengan” adalah semacam lampu lampion terbuat dari bilah bambu dan kertas yang di dalamnya ada lampu “sentir”. Pada awalnya bentuk lampu ini masih terbatas pada bentuk pesawat, kapal, perahu ataupun bintang. Namun seiring berjalannya waktu kreatifitaspun tumbuh. Bentuknya sekarang ada sponge bob, dora dan teman-temannya. Didalamnya pun sudah berganti nyala lampu listrik. Mereka biasa dipasang di depan rumah di bulan Maulud ini. Namun untuk yang suka kepraktisan biasanya teng-tengan ini diganti dengan lampu hias listrik warna-warni.

Itulah yang membuatku selalu ingat tradisi weh-wehan sampai sekarang. Setiap tahun kalau memungkinkan pasti aku bersama keluarga ikut weh-wehan di Kaliwungu.

Iklan

Komentar»

1. Ardhianto Adhi N. - 9 Maret 2009

bagi-bagi bubur di kantor nggak?!

masjaliteng - 9 Maret 2009

ndilalah libur tuh mas… jadi bingung nganternya 😀

2. Ardhianto Adhi N. - 9 Maret 2009

lha emang di BKD ada “liburnya” to?! coba tanya bang John…

masjaliteng - 9 Maret 2009

Khusus mas Jhon nggak ada libure mas, sibuk “kerja” terus…

3. dinda27 - 10 Maret 2009

mm jadi ingat masa kecil.
malam hari H dibawa jalan2 ke pusat pasar malam di Surabaya
dan diizinkan memilih salah satu mainan kesukaan.
Terima kasih sudah berkunjung. Salam kenal

masjaliteng - 11 Maret 2009

Itulah mbak, jadi nostalgia ya… Tapi di Surabaya nggak ada weh-wehan khan? Terima kasih atas kunjungan baliknya.

4. LEINAZACCA - 10 Maret 2009

kemaren…
aku baru aja weh-wehan…
kebetulan rumahku dikaliwungu, dekat masjid Al-Muttaqin klw
dklw sekarang lg rame, coz ada peringatan Maulid nabi
Muhammad yg diselenggarakan oleh IRMAKA
buaanyakk bgt lombanya
dari yang TK hingga yg ibu-ibu ikut lomba juga lho….
salam…bwt anak2 IRMAKA dan temen2 yg ada d klw…..

masjaliteng - 11 Maret 2009

Tahu gitu kemarin mampir dech… Informasinya agak telat jadi nggak sempat lihat yang karnaval. Btw trims sudah mampir dan berkunjung.

5. tachev - 11 Maret 2009

Mas itulah kekhasan Kaliwungu, apapun bisa dan kreatif. Apalagi menyambut hari besar islam, pasti rame. dari lomba2, karnaval sampe panggung kosidahan. Jangan seperti kota kendal sepi nyenyet.
Mas, sing ning gambar iku panganan opo ? bubur opo kolak sih. Pas ning ruang Kantor rak ono jajan dadi ngiler, kie.

masjaliteng - 11 Maret 2009

Iyo wis yang dari Kaliwungu bilange gitu…
Kelihatannya itu gambar sompil mas 😛
Lihatin gambare sambil slrupp…

6. adhi - 13 Maret 2009

wha … tar ikut weh-weh an ah, ….. sapa tau di wei banyak .. he he

masjaliteng - 14 Maret 2009

Boleh…boleh, siapa takut…?

7. berita online - 21 Desember 2016

kalo pas acara weh-wehan makanan yg jadi ikon biasane sumpil karo ketan abang ijo…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: