jump to navigation

Sebelum Masa Kampanye 22 Maret 2009

Posted by masjaliteng in asbun, sospol.
Tags: , , ,
trackback

pemilu2009Sejak 16 Maret sampai 5 April 2009 selama 21 hari kita mulai bertemu dengan apa yang dinamakan kampanye. Sebenarnya tadinya nggak begitu ngerti dengan jadwal maupun jenis kampanye. Namun karena ada temanku yang protes kenapa anggota KPPS tidak mengerti masalah kampanye maka akupun mencoba mencari jadwalnya di KPU. Namun yang akan aku ceritakan disini bukanlah kampanye itu sendiri. Soalnya bagiku ada yang lebih menarik sebelum masa kampanye dimulai.

Kita mungkin pernah membaca atau mendengar bahwa di salah satu daerah di Indonesia sebelum masa kampanye ini ada yang sudah dilaporkan ke Panwaslu. Pejabat yang dilaporkan itu merupakan wakil gubernur di daerah tersebut. Laporan kepada panwaslu tersebut oleh beberapa parpol peserta pemilu pada intinya adalah pelanggaran masa kampanye. Hal ini terjadi karena dalam setiap pertemuan pejabat tersebut selalu menyampaikan salam terlebih dahulu dan salam yang dipermasalahakan tersebut berafiliasi kepada salah satu parpol menurut mereka sehingga berindikasi kampanye sebelum waktunya.

Itu baru masalah salam, belum yang lainnya. Contoh lainnya adalah masalah makanan. Kita makan apa dan dimana bisa menjadi persoalan kalau dikaitkan dengan politik. Karena pemilik suatu tempat makanan berafiliasi ataupun dikategorikan mendukung partai tertentu kita dilarang makan di tempat tersebut. Jadi sebelum makan di suatu tempat kita harus melihat dan bertanya kepada pemiliknya terlebih dahulu, “Sampeyan milih siapa?” barulah kita menentukan pilihan apakah maju atau mundur. Lalu laparnya ikut siapa? mana tahan…

Dari cerita diatas dapat kita lihat bahwa apapun bisa menjadi lain persepsinya ketika sesuatu ditarik ataupun diasosiasikan ke ranah politik. Apa yang biasa bisa menjadi luar biasa ketika bahasa politik dipakai. Sesuatu yang remeh temeh bisa menjadi sesuatu yang sangat penting. Dan kitapun harus rela untuk dikotak-kotakkan menurut warna baju politik kita. Kapan kita akan dewasa dalam berpolitik? Bahwa walaupun berbeda partai namun tetap satu bangsa. Walaupun beda visi dan platform tapi yang akan dibangun adalah negara dan rakyat yang sama pula. Kalau makanpun harus sesuai dengan baju politik kita. Atau jangan-jangan saat seseorang meminta pertolongan kepada kita, kitapun akan bertanya terlebih dahulu orientasi politiknya barulah kita tolong. Atau malah yang paling parah saat melayat kematian seseorang kita pakai skala prioritas politik, yang paling menguntungkan yang kita datangi.

Tanya kenapa…?

Iklan

Komentar»

1. Sawali Tuhusetya - 22 Maret 2009

politik itu sesungguhnya bisa dijadikan sebagai alat utk menciptakan kesejahteraan dan kemaslahatan bersama, masjalitheng. sayangnya, tak sedikit politisi yang kemaruk. politik bukan lagi menjadi alat alias media, tapi justru menjadi tujuan itu sendiri.

masjaliteng - 22 Maret 2009

setuju Pak, kalau politik sudah dijadikan tujuan maka yang terjadi blunder politik, rakyat malah yang menjadi alatnya. Matursuwun kunjungannya…

2. nahrawisagita - 24 Maret 2009

Mas, kalau suami istri beda partai gimana tuh? nggak kebayang deh ribetnya kampanye? tahu kan maksudnya siapa?

Terima kasih.

3. masjaliteng - 24 Maret 2009

maksudnya siapa sih? 😀
mungkin malah rukun mas, diluar beda partai tapi di dalam rumah tetap bersatu…

4. byme - 28 Maret 2009

semoga kampanye berjalan baik-baik saja
untuk indonesia yang lebih baik lagi
byme

masjaliteng - 28 Maret 2009

setuju dan sepakat Mas… Amin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: